Wajibnya Anak-Anak Jepang Mengunjungi Perpustakaan Sekolah

Wajibnya Anak-Anak Jepang Mengunjungi Perpustakaan Sekolah

Sudah beberapa kali ini, si sulung pulang sekolah membawa oleh-oleh buku pinjaman dari perpustakaan sekolahnya. Wajahnya nampak berbinar, terlebih saat menemukan tema yang ia suka.

“Mama, aku baru kali ini loh nemu buku tentang kereta di perpus yang lengkapnya kayak begini.”

meminjam buku dari perpustakaan sekolah

Iya nggak heran Nak, Jepang menjadi negara pembuat kereta beragam model, mau yang tercanggih maupun terkuno ada, dan semuanya terawat, serta masih dapat beroperasi. Ilmu tentang pembuatan kereta tentu perlu diwariskan ke generasi penerus Jepang, agar suatu saat kereta yang mereka buat kian bagus. Istilahnya adalah continuous improvement atau “kaizen”. Maka, selain bisa melihat langsung, atau belajar di museum sejarah kereta, dibuatlah buku-buku seperti ini.

Melihat buku yang dibawa si sulung lengkap dengan aneka ceritanya, saya melihat negeri Jepang SANGAT SERIUS mempersiapkan generasi penerus bangsanya. Mereka inilah harta paling berharga sehingga layak diberikan segala macam fasilitas. Buku di perpustakaan sekolah hanya segelintir saja dari sekian banyak fasilitas yang diberikan pemerintah Jepang. Bahkan ensiklopedi terkenal sekelas DK Ensiklopedia tersedia di sekolah yang terletak di Kota Onojo tempat saya tinggal. Onojo bukan kota metropolitan seperti Tokyo, Onojo tergolong kota kecil dibanding Fukuoka sebagai ibukota prefecture. Tapi DK Ensiklopedia disediakan disini. Bagaimana dengan kota di Jepang yang lebih besar? Saya rasa sama sih, atau malah lebih lengkap lagi fasilitasnya?

Budaya baca sejak kecil yang ditanamkan di Jepang tentu berdampak pada kehidupan dewasa. Saya mengamati di kereta Jepang walau padat penumpang, orang-orangnya silent, baca buku. Di taman juga demikian. Saat orang tua menemani anak-anak bermain di taman, ada yang sebagian menunggu sambil membaca buku.

Sebagai tambahan informasi, anak-anak Jepang kalau sedang wisata, bawanya kamera, mereka asyik motret obyek kesana kemari. Jadi gadget mereka adalah kamera poket. Seru ya!

Rahasianya apa sih, bisa demikian hasil didikannya? Mungkin ini salah satunya, pembiasaan anak-anak pada buku. Mengunjungi perpustakaan di sekolah, ada jadwalnya. Seminggu satu kali untuk anak level kelas dua. Semua anak digiring ke perpustakaan pada jadwal masing-masing kelasnya. Walaupun tidak meminjam buku, misal hanya melihat-lihat di perpustakaan juga tidak apa. Yang terpenting ada kesadaran untuk berkawan dengan buku.

Penggunaan gadget di rumah bagi anak Jepang juga dikontrol oleh sekolah. Pernah saya share masalah ini disini.

Sehingga berkawan dengan buku, membaca buku, serta mengurangi gadget bisa KLOP.

Nampaknya, menyediakan buku bagi anak-anak menjadi sesuatu yang wajib di Jepang ini. Di teras masing-masing kelas terdapat rak buku atau perpustakaan mini. Gunanya apa? Setiap anak yang telah selesai mengerjakan matematika atau pelajaran lain misalnya, anak boleh keluar kelas menuju rak buku di teras kelas tadi. Lalu mengambil buku yang ia suka dan kembali lagi ke tempat duduknya. Diam disitu karena asyik dengan bukunya. Saya membayangkan, kelas pasti tetap silent, tidak ramai karena anak yang sudah selesai mengerjakan tugas, tidak mengganggu kawannya yang masih belum selesai.

Sensei juga memotivasi, ayo pinjam buku yang banyak ya. Kemudian dihitung, si A pinjam sekian buku, si B pinjam sekian buku, dan seterusnya. Biasa kan, anak-anak kalau dapat banyak tentu akan senang? Usaha ini, saya rasa sudah cukup untuk mendekatkan anak-anak pada buku.

Anak-anak memang harta paling berharga untuk sebuah negara. Cara Jepang untuk mempersiapkan generasi penerus mereka dengan baik, pantas untuk dicontoh. Bukan hanya di keluarga, tapi juga di masyarakat, bahkan negara juga perlu terlibat mempersiapkan generasi penerus ini. Seperti seorang pepatah yang mengatakan, ‘It takes a village to raise a child!originated from the Nigerian Igbo Culture ‘Oran a azu nwa’ yang maknanya kurang lebih : “Membesarkan seorang anak membutuhkan lebih dari sebatas kedua orang tua kandung, atau bahkan satu desa.”

Sebenarnya masih banyak “lesson learned” lain untuk diceritakan tentang seriusnya Jepang dalam mempersiapkan generasinya, ketika dilihat dari sisi : menu makan siang buatan dapur sekolah, tunjangan bulanan anak Jepang, fasilitas taman kota, dibukanya akses museum untuk pendidikan, tontonan acara TV Jepang, dan seterusnya (mungkin nanti ke depan saya menemukan lagi). Semoga selalu ada waktu dan kesempatan untuk berbagi cerita.

 

Salam Literasi,

Alvika Hening Perwita

Founder Fairuz Edu Store

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *