Selalu Ada Hikmah Di Balik Setiap Kejadian

Selalu Ada Hikmah Di Balik Setiap Kejadian

Kisah yang Allah hadirkan dalam hidup kita tentulah tidak selalu lurus dan lancar, namun meski demikian selalu percayalah bahwa akan selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian yang terjadi dalam kehidupan kita.

Allah maha tahu segalanya. Allah tahu apa-apa yang menjadikan hidup kita lebih baik dari masa ke masa, maka saat kejadian tidak baik yang disebut sebuah ujian dari-Nya datang menerpa, tetaplah bersabar dan tawakkal, sebab di balik ujian yang telah digariskan-Nya untuk kita pasti tersimpan hikmah yang luar biasa.

Karena sesuatu yang telah Allah berikan kepada kita tidak akan pernah sia-sia, semuanya pasti mengandung hikmah yang luar biasa, namun kita saja yang tidak bisa secara cepat untuk memahaminya.

Kita lebih sigap mengeluh daripada menela’ah secara bijak segala kejadian yang Allah hadirkan kepada kita, terlebih kejadian yang dirasa tidak mengenakkan, padahal sebenarnya sesuatu yang tidak mengenakkan tersebutlah Allah tengah mengajarkan kita terntang banyak hal pelajaran hidup.

Beruntunglah orang-orang yang mampu mengambil hikmah dari setiap yang terjadi di kehidupannya, karena hidup itu akan selalu menjadikan pemiliknya merasa indah dan damai. Jika kita mampu memaknai ujian yang ada dengan selalu meyakini bahwa hikmah yang Allah persiapkan selalu elegan dan sempurna. Lailiyatus Sa’adah (humairohdotcom). Karena, akan selalu ada hikmah di balik setiap kejadian yang terjadi dalam kehidupan kita.

 

 

Suatu sore, pasca lima minggu tiba di Fukuoka, kami sekeluarga ingin ke taman, menikmati bunga sakura yang sedang cantik bermekaran. Kami nekat berbekal sepeda minimalis dengan boncengan ala kadarnya.

Perpindahan ritme hidup dari yang biasa menginjak pedal gas berganti menjadi mengayuh pedal sepeda, sungguh jadi pengalaman yang luar biasa di tanah rantau ini. Terlebih ada satu anak dan satu balita yang harus kami bonceng.

Di sepanjang perjalanan, mulut kami tak berhenti berucap ke anak-anak, “Awas kakinya, ayok pegangan yang kenceng.” Berulang kali kami ucap dengan harapan kaki anak tak masuk ke ruji sepeda dan mereka berdua tidak ketiduran di boncengan. Situasi dan suasana sungguh mendukung dengan hawa sejuk angin sepoi-sepoi, bisa jadi anak-anak tertidur dan lengah dengan kaki mereka.

Kami boleh berusaha, tapi Allah tetap yang menentukan. Saat kepulangan dari taman, kaki Faira, anak balita kami masuk juga akhirnya ke ruji. Pecahlah tangisnya. Kami cek, alhamdulilah luka sedikit dan bisa lanjut perjalanan.

Tak disangka, hanya kurang 700m mendekati rumah, gantian kaki Fadli yang masuk ke ruji. Kali ini tangisnya lebih keras dari adeknya tadi, sampai-sampai orang Jepang yang sedang berjalan di dekat kami mendekat dan membantu menolong. Dengan tangisan seperti itu, kami yakin pasti sakit sekali dan benarlah lukanya cukup besar.

Ciutlah hati saya, ibunya. Apalagi dua hari lagi adalah hari pertama masuk sekolah bagi Fadli. Sedih sekali. Ya Allah kenapa begini? Mulut sepertinya nggak berhenti mengingatkan anak, tapi masih saja kejadian. Ampuni hamba dan minta solusi ya Allah.

Hari pertama ke sekolah dilalui dengan kaki luka dan jalan yang terseok-seok. Beruntung masih hari pertama masuk sekolah, jadi ada toleransi dari pihak sekolah untuk diantar para orangtua. Semua dengan sepeda tentunya. Di jalan berpapasan dengan anak Jepang lain yang sedang jalan kaki juga, sementara ibunya memantau dari belakang dengan sepeda. Tujuan pengantaran hari pertama ini hanya memastikan anak tau betul rute jalan menuju sekolah. Untuk hari berikutnya, ya silahkan anak jalan sendiri. Kalau beruntung terkadang berpapasan dengan teman lain sehingga bisa berjalan bersama.

Hari berikutnya, tantangan dimulai oleh Fadli sendiri. Dia harus jalan kaki, kali ini tanpa kami yang mengantar. Sedih? Iya. Dengan kaki tanpa luka saja, saya sebagai ibunya antara tega dan tak tega melihat dia jalan kaki ke sekolah. Tapi kami tinggal di Jepang, yang anak sekolah wajib berjalan kaki ke sekolah, jadi harus ikut aturan dimana tanah kami pijak.

Perlahan hanya doa yang bisa kami usahakan, semoga Fadli bisa melewati ini semua. Hari ke hari dia nampak enjoy berjalan kaki ke sekolah walau masih dengan kaki luka. Lalu dia pun berucap, “Mama, kalo kakiku sakit gini, Mister Higuchi bisa ngikutin aku kemana-mana. Aku kan jalannya pelan, bisa di sebelah Mister Higuchi terus. Aku kalo istirahat juga nggak lari-larian di lapangan, jadi enak kan Mister Higuchi nggak perlu ngejar-ngejar aku?”

Allah, inikah jawaban dari kejadian KEJEPIT RUJI beberapa hari lalu? Mister Higuchi seorang pensiunan di perusahaan multinasional yang bisa berbahasa Inggris, yang ditugaskan oleh pemerintah kota dan sekolah untuk jadi volunteer translator bagi Fadli. Beliaunya berjalan dengan tongkat, dengan tenaga yang gesit, khas nenek kakek Jepang.

Kalau tanpa kejepit ruji, sudah pasti anakku akan aktif kemana-mana. Lari kesana sini. Dan pastinya akan menyulitkan tugas Mister Higuchi.

Dua minggu berlalu, kaki Fadli sudah membaik. Dua bulan berlalu, Mister Higuchi sudah berpindah tugas, membantu warga asing lain yang memerlukan bantuan “translator” beliau. Semoga Allah merahmati Beliau yang sangat peduli ini, tak memandang kami siapa. Berbeda bukan untuk dijatuhkan, berbeda kita bisa bersama saling tolong menolong.

Dan jangan pernah lupa untuk selalu husnudzon kepada Allah. Karena Selalu Ada Hikmah Dibalik Setiap Kejadian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *