Sekotak Bekal

Ada satu hari yang bernama “hari onigiri” di sekolah si sulung. Di hari itu, acara di sekolah adalah makan onigiri bersama. Makan siang yang biasanya anak Jepang makan masakan dapur sekolah, hari itu, mereka membawa sendiri bekal dari rumah. Menunya seragam, yaitu onigiri. Kalau si sulung, sudah biasa membawa bento atau bekal sendiri, dengan alasan ke-halal-an makanan, tetapi baru kali ini membawa menu ala Jepang seperti onigiri.⁣

Onigiri ini kudapan yang sangat khas dan mudah ditemukan di supermarket Jepang. Saya sih menyebutnya seperti arem-arem kalau makanan di Jawa. Onigiri alias nasi kepal yang berisi lauk. One stop eating, sekali hap dapat karbohidrat, juga protein.⁣

Onigiri biasanya dibalut dengan nori, yang asalnya dari rumput laut. Banyak ditemukan di pinggir pantai saat anak-anak bermain air di musim panas.

Hari Onigiri atau bisa juga disebut Hari Bento, anak-anak diminta praktek untuk memikirkan menu bekal. Aktivitas ini dimulai dari berbelanja menu yang akan dimasak, memasak nasi, juga menyiapkan lauk yang sekiranya mudah dibuat oleh anak usia sepuluh tahun. Usai pulang sekolah, anak-anak juga diminta membereskan kotak bekalnya, yaitu dengan mencuci wadah tersebut.

Ya, aktivitas ini sangat baik untuk melatih kemandirian anak. Karena tidak selamanya kita orangtua akan selalu berada di samping anak, menyiapkan segala kebutuhannya.

Belajar banyak dari kurikulum SD di Jepang. Pelajaran yang diterima sang anak, tidak melulu tentang akademis tapi lebih banyak kepada life skill / cara hidup.

Pelajaran mempersiapkan kotak bekal ini, salah satunya ada di pelajaran gakkatsu. Jika biasanya anak Jepang terima jadi makan siang di sekolah, di pelajaran gakkatsu anak berlatih kemandirian. Anak anak harus belajar menyiapkan sendiri bekal sekolah mereka. Walaupun lebih seringnya mereka “dimanja” karena makanan selalu dimasak oleh katering sekolah, tapi tetap kemandirian harus diajarkan.

Lauk yang tertulis di kertas perintah sederhana saja. Roti, sandwich, onigiri/nasi kepal. Poin penting disini, anak memahami menu gizi seimbang yang mencakup tiga warna. Warna merah untuk pertumbuhan (seperti daging, ikan). Warna kuning untuk energi (seperti nasi, ubi, roti). Dan warna hijau untuk serat dan vitamin (seperti sayur, buah). Mudah bukan untuk anak usia 9-10 tahun?

Lain hari juga ada Pekerjaan Rumah atau PR di pelajaran gakkatsu, yaitu tentang membantu orangtua. Ada daftar di kertas yang harus dicentang sang anak. Sudah membantu ayah dan ibu apa saja? Membantu belanja? Membantu beberes rumah? Atau yang lain?

Pantas saja negara ini sama sekali tidak butuh asisten rumah tangga jika model belajarnya sejak dini semacam ini. Japanese, we learn a lot from you.

Di akhir kenaikan kelas, biasanya ada sesi temu orangtua dan Sensei yang menampilkan pertunjukan anak-anak. Pertunjukan ini dalam rangka menyampaikan rasa terimakasih anak kepada orangtua dan Sensei yang telah mendidik mereka sejauh ini. Seperti misalnya ucapan, “Itsumo oishī gohan o arigatō.” Terima kasih untuk nasi yang selalu lezat. Hiks, air mata setiap orangtua keluar, terlebih saya, karena hanya putra sulung saya sendiri di kelas itu yang membawa bekal makan siang ke sekolah setiap hari. Ucapan terimakasih yang sepertinya sederhana namun sarat makna.

Pertanyaan tak terduga pernah datang dari teman-teman si sulung. “Eh, kamu kepengen makan makanan dari sekolah nggak?” Hm, ya jelas kepengen. Siapa sih yang enggak kepengen teman-teman pada makan, sementara kita bawa sendiri bento atau bekal ke sekolah kita?

Tidak lain dan tidak bukan, pastilah Allah yang menguatkan. Tetap nikmat makan makanan sendiri dari rumah. Jawab si sulung kala itu, “Ya kepengen tapi kan aku nggak bisa makan makanan di sekolah, ada aturannya.”

Anak umur sepuluh tahun, tidak saya seting jawabannya. Hanya jika di rumah, kami tanamkan, makan ya yang halal, diteliti benar bahan-bahan makanannya.

Lain hari, ada teman lain yang mengatakan, “Makanan yang kamu bawa dari rumah enak-enak banget sih. Aku jadi kepengen. Sebenarnya aku enggak suka sama makanan sekolah, lebih enak makanan di rumah.”

Deg. Saya kaget mendengarkan cerita ini. Ada kalanya saya merasa, menu yang disajikan sekolah sangat enak, jauh dari apa yang saya siapkan untuk anak. Allah telah menegur saya lewat kejadian ini.

Manusia ya, melihat teman di sebelah ijo, melihat teman di sebelah panas. Pengennya sesuatu yang tidak dipunya. Padahal apa yang dia punya sudah lebih dari cukup dan orang lain banyak yang menginginkan.

Banyak-banyaklah bersyukur atas segala kondisi yang kita miliki, karena kata Allah, “Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (QS. Ibrahim: 7)

Dari sekotak bekal, saya belajar banyak hal. Ada tentang kemandirian dan rasa syukur.

#30DWC #30DWCJilid28 #Day19

Oleh Alvika Hening Perwita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *