Parenting Tanpa Mengunggulkan

Parenting Ala Japanese

Seri 02. Parenting Tanpa Mengunggulkan

Oleh Alvika Hening Perwita

Kemarin, saat saya sedang bercengkrama dengan laptop, putra sulung saya mendekati sambil membawa buku dan semacam amplop bagus dari plastik tebal. Dia pun berkata, “Mama, aku dapat hadiah dari sekolah, yang dulu aku bikin celengan itu lho.” 

Memori saya terbawa pada liburan musim panas tahun lalu. Bahwa si sulung pernah membuat prakarya celengan atau tempat menabung uang. Sudah lazim di sekolah Jepang ini jika libur summer, pasti sekolah mengadakan aktivitas untuk murid di rumah, biasanya bekerjasama dengan perusahaan. Untuk tema menabung ini, Japan Post Bank adalah sponsornya.

Memori saya pun juga kembali teringat liburan musim panas dua tahun lalu yang ada aktivitas serupa. Kala itu, sekolah menggandeng perusahaan transportasi dan pariwisata Nishitetsu. Dalam kegiatan liburan tersebut, si anak boleh menggambar aneka jenis kereta atau bus Nishitetsu yang menjadi favoritnya. Putra sulung saya dua tahun lalu juga mendapat hadiah tiket masuk di amusement park yang tentunya dikelola oleh Nishitetsu juga. Hadiah yang ia dapat karena melukis kereta Tabito kesukaannya saat bepergian ke Dazaifu.

Saya kemudian menjawab putra sulung saya, “Tadi gimana Sensei kasi hadiahnya?”

Dan si sulung dengan semangat bercerita, bahwa tiba-tiba Sensei mendatangi mejanya di kelas dan memberikan hadiah tersebut. Lalu tak lama Sensei memanggil murid-murid yang juga turut berpartisipasi dalam event tersebut.

“Mamah, yang dapat amplop ini cuma aku lho. Soalnya tadi aku lihat teman-temanku cuma dapat buku. Yang ini amplop wadah masker, bagus ya Ma? Dan kayaknya celenganku itu paling bagus Ma, soalnya cuma aku yang hadiahnya beda.”

Memori saya teringat saat dulu ia berusia 5-6 tahun di Indonesia. Saat masih bersekolah TK, ia pun kerap mengikuti event perlombaan. Ya selayaknya sekolah TK di Indonesia, pasti selalu ada lomba.

Saat ia menang, gemuruh tepuk tangan pasti terdengar. Lalu si anak akan maju ke depan disaksikan oleh teman-temannya. Sesak dada saya membayangkan kala itu. Bagaimana ya perasaan anak yang tidak menang lomba? Pasti sedih. Lalu bagaimana juga perasaan si anak yang menang lomba? Pasti terbebani.

Banyak efek yang terjadi. Bisa jadi si pemenang sombong, bisa jadi ia hilang semangat, “Ah sudah pernah menang, besok tak perlu ikut lomba lagi.” Bisa jadi si anak pesimis, “Ah aku tak mau ikut lomba lagi, paling yang menang si itu.” Belum lagi adanya praktek kecurangan yang sering terjadi dalam perlombaan. Siapapun yang berduit, bisa lho memenangkan lomba. Atau malah si orangtua terobsesi dengan piala, jadi tanpa bersusah payah pun ia bisa juga kok memesan piala.

Jepang berbeda dalam mengapresiasi prestasi anak. Negara ini memiliki pemahaman kuat bahwa semua anak sama pintarnya, sama kreatifnya, sehingga tidak perlu ada anak yang harus diunggulkan atau dijatuhkan.

Nampak saat hadiah diberikan kepada si sulung, tidak ada acara istimewa, justru Sensei mendatangi secara personal kepada anak yang bersangkutan. Tidak ada hingar bingar tepuk tangan dan teman-teman yang tidak mendapat hadiah pun tidak perlu melongo melihatnya. Dua tahun lalu penyerahan hadiah lebih unik lagi. Tiket beserta surat dikirim kepada orang tua masing-masing.

Perlombaan lain pernah diadakan oleh Pemerintah Kota tempat saya tinggal, yaitu Kota Onojo. Di ulang tahun kota yang kesekian, ada perlombaan menggambar logo kota yang bekerja sama dengan semua sekolah di kota tersebut. Sebenarnya kota ini sudah punya maskot yang bernama Joe. Nah, si Joe ini bisa dimodifikasi sesuai kemauan anak. Kala itu memang ada pemenangnya, namun tau tidak, semua yang turut berpartisipasi, hasil karyanya dipajang di museum kota. Ya layaknya seorang pelukis yang mengadakan pameran. Dan orangtua juga menerima surat undangannya, dimohon untuk menemani anak menyaksikan karyanya.

Saya salut dan senang dengan cara mengapresiasi yang dilakukan oleh Negara Jepang. Tidak ada anak yang dinomorsatukan karena setiap anak itu juara dengan keahliannya masing-masing. Sebuah contoh cara mendidik tanpa mengunggulkan satu anak. Karena setiap anak unik, setiap anak hebat sesuai bakat dan potensinya masing-masing.

#parentinglife #japanlifestory

#30DWC #30DWCJilid28 #Day25

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *