Parenting Memberi Peran

Parenting Ala Japanese

Seri 03. Parenting Memberi Peran

Oleh Alvika Hening Perwita

Berawal dari buku “Bunda Cekatan” karya Komunitas Ibu Profesional yang pernah saya baca di tahun 2018, terdapat satu tema tentang A Home Team. Di tahun itu, saya sedang belajar bagaimana meng-handle rumah tanpa asisten rumah tangga. Maka saya selalu memiliki minat dengan tema seperti ini. Juga saya selalu “amazed“, kagum dengan para ibu yang sanggup mengurus rumah tanpa asisten rumah tangga. Itulah mengapa saya perlu belajar banyak dari mereka.

Dalam A Home Team diajarkan, bahwa anak pun bisa kita ajak sebagai suatu team yang meng-handle rumah. Akhirnya saya praktekkan pada anak-anak sesuai kesepakatan mereka. Misal anak yang besar saat itu usia 7 tahun, saya beri peran sebagai manajer pintu, manajer meja makan, juga manajer sampah. Tugasnya adalah membuka tutup pintu pagar, membereskan meja makan, juga membuang sampah ke depan. Sementara anak yang lebih kecil, usia 3 tahun, saya beri peran sebagai manajer popok, manajer buku juga manajer mainan. Tugasnya adalah membuang popoknya sendiri ke tempat sampah dan merapikan buku juga mainan yang telah dipakai bermain. Nama jabatannya boleh dibilang aneh dan lucu, tapi saat anak-anak saya beri jabatan itu malah mereka senang dan semangat mengerjakan.

Ilmu A Home Team ini saya pelajari dan siapkan untuk merantau ke suatu negeri yang bisa dikatakan sebagai negeri tanpa asisten rumah tangga. Masyarakatnya sangat mandiri, baik anak remaja dewasa bahkan kakek nenek pun sangat mandiri bisa hidup tanpa asisten. How come? Itulah saya juga heran dan sampai hari ini pun masih belajar.

Tibalah saya dan keluarga di negeri Jepang dan kembali saya mengenal A Home Team dari konsep yang dikenalkan oleh sekolah putra sulung saya. Di SD Jepang istilah pembagian tugas anak sebagai manajer ini disebut kakari. Setiap anak di kelas tersebut boleh memilih akan menjadi kakari atau manajer bagian apa. Lalu anak yang memiliki minat kakari yang sama, akan digabungkan dalam satu kelompok. Proses pemilihan kakari dilakukan secara bergilir dan adil untuk semua murid.

Ada kakari atau manajer
animal : tugasnya merawat akuarium kelas yang berisi ikan gupi, memberi makan ikan gupi, dan mengganti air akuarium
exercise : tugasnya sebagai pemimpin dalam baris berbaris, juga pemanasan sebelum olahraga
library : tugasnya meng-handle semua kartu perpustakaan milik kawan sekelas
game : tugasnya menyiapkan alat games atau permainan yang akan dimainkan di kelas, juga memikirkan ide permainan apa untuk dilakukan bersama di kelas
eating : tugasnya membacakan menu makan, juga memimpin doa makan
cleaning : tugasnya memastikan semua teman sekelas tenang saat bersih-bersih kelas dan lingkungan sekitar sekolah

Cukup banyak jumlah manajer cilik di sekolah Jepang dan tugasnya beragam untuk seusia anak SD. Asyiknya, anak-anak boleh memilih sesuai minat atau kesenangan anak. Sehingga apapun pekerjaan yang disuka anak pasti akan dilakukan dengan senang dan sungguh-sungguh.

Ya, saya mendapatkan ilmu baru. Kakari ini pada akhirnya, di rumah, saya gabung dengan A Home Team karena memiliki kemiripan. Saat ini, anak saya yang besar berperan sebagai manajer animal di sekolah. Sedang di rumah, bekerjasama dengan adiknya, berperan sebagai manajer baju dan manajer masak. Maksudnya membantu ibunya menjemur baju juga memotong sayur. Tidak disangka anak-anak happy, suka nagih tugas baru. Malah yang kecil pernah bilang, “Mama aku kerjaannya yang berat gitu lho, bikin teh aku mau.” Oh, bikin teh itu berat ya? Usia 4.5 tahun sudah nagih membuat teh. Kalau yang besar pernah berkata ingin berganti peran, “Mama aku besok ngupasin semangka atau coba masak ya, Ma.” Padahal tadinya saya was-was saat dia minta kupas semangka, mampukah? Dan di lain hari, dia ingin mencoba memasak sup ayam, tentu dengan step by step yang sudah saya tuliskan.

Jadi memang benar, anak-anak suka sekali diberi peran. Apakah ingin ikut mencoba, Mom? Atau malah sudah praktek juga di rumah? Cara ini bisa mengajarkan kemandirian pada anak lho, karena tak selamanya orang tua bersama anak, kan?

#parentinglife #japanlifestory

#30DWC #30DWCJilid28 #Day26

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *