Menanti Salju

Menanti Salju

Saat ada rencana untuk mengikuti suami studi di Jepang, bayangan saya pertama kali adalah salju. Wow, pasti indah sekali melihat si putih yang biasa hanya saya tonton di televisi itu. Seperti apa ya rasanya berjalan di tengah salju sambil mulut mengeluarkan asap saat berbicara? Hahaha, maklum, darah tropis suka takjub dengan negara empat musim.

Saya tiba di Jepang pada Bulan Maret, adalah akhir musim dingin. Tentu sudah tidak ada salju, karena menurut informasi yang saya baca, salju biasa turun di Bulan Desember-Februari. Tak apa, masih ada musim dingin tahun depan, pikir saya kala itu.

Musim berganti, saya masih menanti salju. Apa yang saya dapat ternyata tidak sesuai harapan. Tanah Jepang di tahun 2020 itu tidak banyak salju, bahkan di tempat yang biasa turun salju deras pun tidak ada. Lalu saya meyakinkan diri, bertanya pada Umi San, teman Jepang saya.

“Ohayo Umi San. I hope you are in a good condition. I need information about snow in Fukuoka. What do You think? Because I haven’t seen it.”

“Hello Vika San. Hm, I think because it is the effect of global warming or climate change. Wait, I will send you picture on 2016, 2017 there was a heavy snow in our town.”

Seketika saya berdoa. “Allah, saya minta salju turun.” Sesimpel itu doa saya. Dan saya terkesima dengan jawaban-Nya. “Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau lihat  hujan keluar dari celah-celahnya dan Dia (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran es) itu kepada siapa yang Dia kehendaki dan dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (QS. An-Nur : 43). Allah Maha Berkehendak, dimana akan menurunkan salju.

Saya pun kemudian menengok media sosial, banyak teman di prefektur lain mengeluhkan hal yang sama. Tidak ada salju. Musim berganti, dan winter pun pergi tanpa ada salju di Fukuoka. Hingga akhirnya, Allah jawab dengan cepat di musim dingin tahun berikutnya. Allah jawab dengan badai salju berhari-hati di Kota Onojo tempat saya tinggal.

 

Siang itu saya dan keluarga menikmati sekali salju turun. Membuat vlog, bereksperimen dengan boneka salju atau dikenal dengan snowman, hingga berjalan-jalan di tengah badai salju. Setelah kami merasakan, tau tidak apa rasanya? Badan kami tidak kuat. Rasanya tidak setangguh orang Jepang yang dengan sigapnya berjalan di tengah hamparan si putih. Kami menggigil kedinginan dan ingin segera pulang, lalu membilas kaki dan tangan dengan air hangat. Kami tidak tahan dengan bekunya tangan.

Salju memang indah sih. Like a fairy tale. Seperti negri dongeng. Indah banget dilihat (dari balik jendela). Tapi di balik keindahannya, kita harus berhati-hati saat melaluinya. Saat badai salju, hanya bisa berjalan kaki. Badai salju, membuat saya tidak berani bersepeda, ya karena jalanan licin.

Persiapan harus ketat jika ingin terjun ke badai salju. Jaket dobel, syal, sepatu tertutup anti air, masker, penutup telinga, sarung tangan. Yes. Seribet itu. Kaki harus tertutup rapat dengan sepatu anti air agar tidak beku di jalanan.

Di berita-berita Jepang, ramai beredar badai salju yang parah disertai angin besar. Mobil slip tergelincir, karena belum siap dengan roda khusus untuk jalanan bersalju. Tiang listrik ambruk. Rumah-rumah tertutup salju harus diserok jika mau keluar rumah. Orang-orang harus jalan kaki karena bahaya licin jika bersepeda. Jadi, sudah tau rasanya menanti salju?

Di rumah, kami harus stand by dengan penghangat ruangan full, dilengkapi dengan humidifier atau pengatur kelembaban. Ya suhu dingin itu menghasilkan ruangan yang sangat kering, sehingga tidak nyaman di kulit. Saya jadi membayangkan, pantas saja di negara ini tidak ada homeless people. Bagaimana akan ada tuna wisma jika suhu di luar sangat tidak manusiawi, bisa-bisa mati kedinginan.

Aisyah meriwayatkan bahwa Nabi pernah berdoa, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab neraka Jahannam, dari siksa kubur, dari buruknya ujian kekayaan dan kemiskinan, dan berlindung kepada-Mu dari kejahatan huru-hara Dajjal. Ya Allah, bersihkanlah dosa-dosaku dengan air es dan salju, sucikanlah hatiku dari dosa-dosa sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari kotoran, dan jauhkanlah dariku dosa-dosa sejauh jarak timur dan barat. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelambanan, kepikunan, dosa, dan hutang.” (Shahih al-Bukhari).

Air es diibaratkan mampu membersihkan dosa-dosa. Maha Suci Allah Dzat Yang Maha Agung.

#30DWC #30DWCJilid28 #Day18

Oleh Alvika Hening Perwita

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *