Lingkungan yang Turut Mengasuh

Menginjakkan kaki di Jepang, membuat saya mempelajari kehidupan mama di negeri yang terkenal akan kemandiriannya. Saya pernah membaca jika mama papa Jepang tidak butuh asisten dalam menjalani rumah tangga. Bagaimana cara mereka survive?

Dua tahun sudah saya mengamati dan mempelajari sistem Jepang. Saya juga kenal dengan mama Jepang tiga anak. Bayangan sulit tanpa asisten rumah tangga terpatahkan sudah. Nyatanya orang tua Jepang enjoy saja menjalani kehidupan. Sang ibu juga bisa tetap bekerja.

Alat rumah tangga yang dijualbelikan sangat canggih. Rice cooker misalnya, ada yang memiliki 2 pot, satu memasak nasi, satu memasak sayur (sup atau kari). Untuk membersihkan rumah, ibu Jepang terbantu dengan vacum cleaner dan aneka tisu basah pembersih yang ampuh mengelap kotoran. Urusan pel lantai, ada alat pel seperti robot, dan juga lantai rumah Jepang terbuat dari kayu mengkilap sehingga mudah dibersihkan.

Urusan sekolah anak, orang tua Jepang tak perlu repot antar jemput anak. Karena sejak SD, anak dilatih untuk mandiri berangkat dan pulang sekolah. Hal ini bisa dilakukan karena adanya support keamanaan sistem lalu lintas. Saya awalnya shocked, bagaimana melepas anak melewati pinggir jalan raya, menyeberang zebra cross hingga akhirnya bisa tiba di sekolah. Setelah mengalaminya sendiri, kini saya paham bahwa semua baik-baik saja. Belakangan saya tahu ada penjaga bergantian di sudut perempatan jalur sekolah anak yang dikoordinasikan oleh PTA / Parent Teacher Association. Untuk usia TK, tersedia bus antar jemput yang didampingi oleh Sensei. Tugas mama Jepang, menunggu di perempatan pemberhentian bus sekolah yang dekat dengan lokasi rumah.

Sensei juga turut mengontrol jalur berangkat dan pulang anak-anak. Putra sulung saya pernah diminta mengisi kuesioner untuk menjawab pertanyaan “Kamu bertemu teman apa tidak kalau jalan pulang pergi ke sekolah?” Putra saya menjawab tidak, lalu diusut oleh Sensei. Jalan sebelah mana yang dilewati anak ini? Ternyata anak saya melewati jalur berbeda dengan yang sudah ditentukan sekolah. Maklum saat itu kami masih terkendala bahasa. Sensei turut membantu meluruskan, mengarahkan rute pulang pergi yang harus dilewati putra saya. Seharusnya anak-anak berangkat dan pulang berbarengan dengan teman lain atau segerombolan. Setelah berada di track yang benar, putra saya banyak mengenal teman lewat jalur tersebut. Saya semakin merasa aman saat melepas anak ke sekolah berjalan kaki.

Keberadaan taman bermain juga turut menjadi support system orang tua Jepang. Dengan situasi yang aman, anak bisa dengan mudahnya bermain sepulang sekolah sembari menunggu mama papa pulang bekerja. Atau jika orang tua merasa was-was bisa mengikuti program gakudou atau sejenis penitipan anak.

Bagaimana dengan urusan memasak? Saya dibuat semakin takjub saat melihat bahan masakan di supermarket yang sudah dipacking rapi. Istilahnya para mama di rumah saat memasak tinggal cemplung, tanpa harus repot membersihkan dan memotong bahan masakan. Untuk urusan mobilisasi, jika tak memiliki mobil pun tak masalah. Angkutan kereta api sangat kids friendly sehingga memudahkan orang tua.

Sebuah pepatah yang mengatakan, ‘it takes a village to raise a child’  ini, saya rasa benar adanya. Bahwa untuk membesarkan anak, perlu dukungan lingkungan sekitar bahkan negara harus turut terlibat. Desain support system pengasuhan anak yang memudahkan seperti inilah yang diperlukan orang tua.

#30DWC #30DWCJilid28 #Day29

Oleh Alvika Hening Perwita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *