Gaya Unik Sekolah Dasar di Jepang

Gaya Unik Sekolah Dasar di Jepang

Dua tahun ini, saya membersamai putra sulung saya bersekolah di Jepang. Hasilnya, saya menyimpulkan satu kata, yaitu seimbang. Seimbang dalam hal apa? Berikut akan saya jabarkan.

Seimbang antara aktivitas fisik dan non fisik. Artinya, di Jepang, pelajaran olahraga menjadi hal penting. Tak hanya itu, aktivitas membersihkan area sekolah juga menjadi keseharian anak-anak yang tak kalah penting pula. Karena dari sinilah ilmu survival atau bertahan hidup itu diajarkan.

Kemudian, ada keseimbangan antara porsi budi pekerti dan pelajaran akademis. Pelajaran Kokugo dan Seikatsu, adalah contoh yang membahas pendidikan karakter anak. Meskipun, pelajaran matematika tak kalah banyak juga porsinya. Tidak heran hasilnya negara Jepang sebagaimana yang kita lihat. Bersih, rapi, disiplin, empati, dan masih banyak perilaku positif lainnya.

Pernah suatu hari saat pulang sekolah, tiba-tiba ada yang berbeda dengan kostum putra saya. Baju kaosnya sudah masuk ke celana, padahal pagi saat berangkat ke sekolah, kaos dikeluarkan biasa saja.

“Kok kaosnya dimasukin, Mas?” Tanya saya.

“Tadi aku ngepel, biar enggak melorot kelihatan gitu lho Ma pas jongkok.”

Ya, anak-anak inilah yang beberes sekolah demi mengajarkan rasa kepemilikan. Ini sekolahku, harus dirawat bersama. Bersih-bersih sekolah juga mengajarkan anak untuk survive dalam hidup saat anak-anak dewasa kelak.

Lalu gaya unik lain di SD Jepang adalah pelajaran menanamkan budi pekerti lewat mendongeng. Bagi saya, pelajaran ini menarik. Mengemas pelajaran moral (Kokugo dan Seikatsu) lewat konsep dongeng.

Terbayang kan, bagaimana mengajarkan moral bagi anak? Hal yang sangat abstrak, maka akan bagus dan mudah diserap anak bila dikemas dalam dongeng seperti ini. Dongeng, juga dapat mengasah kemampuan berpikir kritis pada anak karena dilakukan dengan cara fun.

Di cuplikan buku SD Jepang ini, dikisahkan di laut ada sekumpulan ikan kecil. Semua berwarna merah. Tetapi ada seekor ikan kecil yang berwarna hitam, berenang lebih cepat dan memiliki cangkang kuat. Namanya Swimy.

Suatu hari yang buruk, seekor ikan tuna besar datang mengancam sekumpulan ikan tadi dan membuat ombak yang besar. Hanya Swimy yang melarikan diri dan menembus laut dalam dan gelap.

Swimy kemudian bertemu anemon laut, belut laut, dan rumput laut. Swimy berenang jauh, walau awalnya sedih dan ketakutan. Namun kemudian, Swimy bahagia lagi memiliki kawan baru. Swimy bertemu sekumpulan ikan merah kecil seperti yang ia kenal dulu.

“Ayo kita keluar dan lihat sesuatu.” Kata Swimy teringat kejadiannya di masa lalu.

“Kita enggak bisa, ikan besar itu akan memakan kita semua.” Jawab teman baru Swimy.

“Tapi kalian enggak bisa diam disini terus, kita harus memikirkan sesuatu,” kata Swimy.

Swimy mencari jalan keluar dan menemukan ide. “Kita akan berenang seperti ikan terbesar di laut. Aku akan menjadi mata, karena hanya aku yang berwarna hitam.”

Sekarang mereka belajar membentuk kelompok seperti seekor ikan besar. Mereka berenang di laut pagi yang segar dan menyingkirkan ikan-ikan besar yang mengejar mereka.

Dari cerita, digambarkan Swimy adalah ikan yang pemberani dan penuh strategi. Lewat kegiatan mendongeng seperti ini, sekolah menyelipkan pesan khusus untuk anak.

Memang kegiatan yang dilakukan di sekolah nampak sepele. Bersih-bersih sekolah dan mendongeng. Namun dari hal sepele ini, efeknya akan berdampak besar bagi pertumbuhan jiwa anak.

#30DWC #30DWCJilid28 #Day27

Oleh Alvika Hening Perwita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *