Do It for Allah

Anak muslim laki-laki sekolah di Jepang, saat hari Jumat datang, harus izin sama sekolah untuk salat Jumat ke masjid. Prosedurnya harus dijemput orangtua, karena keluar sekolah bukan di jam pulang sekolah. Jika hari biasa sih jalan bareng teman-temannya, ramai sekali saat jam pulang sekolah itu.

Saat awal daftar sekolah dahulu ditemani oleh translator (English to Japanese) petugas dari pemerintah kota atau ward office. Kami ditemani ke sekolah yang dituju, yang mereka tentukan berdasar jarak rumah ke sekolah. Ya hanya jarak itu penentuan sekolah SD Jepang, sesuai jarak rumah ke sekolah. Dari pendaftaran tersebut, orangtua ditanya tentang kondisi anak ini bagaimana, harus apa, dan lebih ditanyakan pada kebiasaan. Dari kesempatan itulah kami menjelaskan bahwa kami muslim, harus makan yang halal jadi tidak bisa ikut katering sekolah, lalu di hari Jumat kami perlu ibadah. Hamdalah sekolah paham, kami perlu ke Hakozaki, nama daerah dimana masjid di Prefektur Fukuoka berada.

Setelah mendapat izin untuk beribadah di hari Jumat, kami selalu izin ke sekolah. Setiap hari Jumat jam 10 pagi, kami menjemput anak ke sekolah. Pagi sekali ya jam 10, padahal salat Jumat masih jam 12:30. Ya jarak ke masjid lumayan dari apato, sekitar 12 kilometer, so harus dengan sepeda dahulu ke stasiun baru sambung naik kereta.

Kadang putra sulung kami sudah memakai baju koko sejak berangkat ke sekolah. Kata teman-temannya seperti baju samurai. Hehe, baju koko = baju samurai. Dan saat berpamitan untuk pulang lebih awal itu, sambutannya masya Allah, “See You, take care,” sambil anak-anak itu melambaikan tangan yang terlihat di jendela kelas.

Saat Ramadhan tiba, kami berada di lingkungan yang berbeda. Bukan sama dan seragam; satu puasa, satu puasa semua. Namun hanya putra sulung kami satu-satunya orang yang berpuasa di kelas tersebut. Sampai dipanggil pihak sekolah, “Is it okay no eating for Fadori?” Mengingat saat mulai musim panas, kegiatan sekolah di Jepang kebanyakan adalah physical training. Dan sebentar lagi di akhir Mei ada Athletic Day. “Is it okay if Fadori watches his friends drinking juice in Athletic Day?” 

Kami menjelaskan dengan logika. Bahwa kami sebenarnya makan, hanya saja waktunya berbeda. Breakfast kami lebih awal, yaitu pukul 3:30 pagi. Lalu Sensei memahami. Just do it for Allah, Allah will guide you.

Demikian ya, kehidupan ini tak selamanya indah. Senang dan duka datang silih berganti. Suasana pun selalu berganti, dan kita sebagai muslim wajib mampu beradaptasi dengan hal tersebut. Ini bumi Allah, dimanapun berada, aturan akan tetap sama.

Jika iman sedang turun, ingatlah selalu bahwa ada kehidupan selanjutnya di hadapan kita. Itulah negeri akhirat. Abadi dan hakiki. Di sanalah tempat istirahat dan bersenang-senang yang hakiki, yakni di surga-Nya yang penuh limpahan rahmat dan kenikmatan. Atau kesengsaraan hakiki, di nereka yang panas membara. Tempat kembali orang-orang durhaka kepada Sang Pencipta.

Ustaz Dr. Firanda Andirja menasehati, “Ketahulilah yang selamat hanyalah sedikit. Sesungguhnya tipuan dunia akan hilang. Semua kenikmatan selain surga akan sirna. Dan semua kesusahan selain neraka adalah keselamatan.”

Kesenangan dunia dan kesengsaraannya adalah ujian dari Allah. Apakah menjadi hamba yang bersyukur saat diberi nikmat dan sabar saat diberi cobaan, ataukah sebaliknya. Karena dunia ini adalah daarul ibtilaa’ (negeri tempat ujian dan cobaan). Allah berfirman, “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan  sebagai cobaan. Dan kamu akan  dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya : 35)

Keburukan dan kebaikan ini adalah sunatullah yang pasti mewarnai kehidupan kita. Tidak ada seorang manusia pun yang terus merasa senang, dan tidak pula terus dalam duka dan kesedihan. Semuanya merasakan senang dan duka datang silih berganti. Jangankan kita, generasi terbaik umat ini, para wali Allah pun pernah dirundung kesedihan.

Allah yang menciptakan kebahagiaan dan kesedihan agar manusia sadar. Bahwa nikmatnya kebahagiaan harus kita syukuri dan kita bagi. Dan sempitnya kesedihan diciptakan agar kita tunduk bersimpuh di hadapan Allah, serta tidak menyombongkan diri. Di saat inilah manusia bersimpuh pasrah kepada Allah yang Maha Penyayang. Seperti aduan Nabi Ya’qub saat lama berpisah dengan putra tercinta, Nabi Yusuf.

Jangan sampai kesedihan yang kita alami membuat kita lemah untuk meraih ridha Allah, bahkan membawanya pada keputusasaan dan membenci takdir Allah. Karena seringkali setan memanfaatkan kesedihan untuk menjerumuskan manusia. Ingatlah selalu bahwa, “Setiap insan pasti pernah merasakan suka dan duka. Oleh karena itu, jadikanlah sukamu adalah syukur dan dukamu adalah sabar.”

Pernah saya merasa sedih sekali, berada di lingkungan minoritas muslim. Melakukan ibadah hanya bersama keluarga, tidak ada teman, tidak ada tetangga yang berbondong-bondong ke masjid. Bahkan untuk puasa pun kami menahan lapar sendiri, sementara manusia di sekitar tidak.

Namun, saya lantas tersadar, bukankah yang bernama hidayah untuk terus bersemangat melakukan ibadah itu harus selalu kita cari? Bukan lantas kita berdiam diri menanti hidayah lalu tiba-tiba bisa rajin ibadah. Itulah kenapa hanya manusia pilihan Allah yang diberi hidayah, dengan syarat tertentu. “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut : 69)

Manusia perlu berusaha semaksimal mungkin dalam menanggung segala kesulitan untuk memenangkan agama Allah. Jika bersungguh-sungguh tentu Allah menambahkan petunjuk pada kebaikan dan kebenaran. Allah bersama kita, hamba-Nya yang berbuat baik. So, just do it for Allah, and Allah will guide You.

#30DWC #30DWCJilid28 #Day20

Oleh Alvika Hening Perwita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *