Wajibnya Anak-Anak Jepang Mengunjungi Perpustakaan Sekolah

Sudah beberapa kali ini, si sulung pulang sekolah membawa oleh-oleh buku pinjaman dari perpustakaan sekolahnya. Wajahnya nampak berbinar, terlebih saat menemukan tema yang ia suka.

“Mama, aku baru kali ini loh nemu buku tentang kereta di perpus yang lengkapnya kayak begini.”

meminjam buku dari perpustakaan sekolah

Iya nggak heran Nak, Jepang menjadi negara pembuat kereta beragam model, mau yang tercanggih maupun terkuno ada, dan semuanya terawat, serta masih dapat beroperasi. Ilmu tentang pembuatan kereta tentu perlu diwariskan ke generasi penerus Jepang, agar suatu saat kereta yang mereka buat kian bagus. Istilahnya adalah continuous improvement atau “kaizen”. Maka, selain bisa melihat langsung, atau belajar di museum sejarah kereta, dibuatlah buku-buku seperti ini.

Melihat buku yang dibawa si sulung lengkap dengan aneka ceritanya, saya melihat negeri Jepang SANGAT SERIUS mempersiapkan generasi penerus bangsanya. Mereka inilah harta paling berharga sehingga layak diberikan segala macam fasilitas. Buku di perpustakaan sekolah hanya segelintir saja dari sekian banyak fasilitas yang diberikan pemerintah Jepang. Bahkan ensiklopedi terkenal sekelas DK Ensiklopedia tersedia di sekolah yang terletak di Kota Onojo tempat saya tinggal. Onojo bukan kota metropolitan seperti Tokyo, Onojo tergolong kota kecil dibanding Fukuoka sebagai ibukota prefecture. Tapi DK Ensiklopedia disediakan disini. Bagaimana dengan kota di Jepang yang lebih besar? Saya rasa sama sih, atau malah lebih lengkap lagi fasilitasnya?

Budaya baca sejak kecil yang ditanamkan di Jepang tentu berdampak pada kehidupan dewasa. Saya mengamati di kereta Jepang walau padat penumpang, orang-orangnya silent, baca buku. Di taman juga demikian. Saat orang tua menemani anak-anak bermain di taman, ada yang sebagian menunggu sambil membaca buku.

Sebagai tambahan informasi, anak-anak Jepang kalau sedang wisata, bawanya kamera, mereka asyik motret obyek kesana kemari. Jadi gadget mereka adalah kamera poket. Seru ya!

Rahasianya apa sih, bisa demikian hasil didikannya? Mungkin ini salah satunya, pembiasaan anak-anak pada buku. Mengunjungi perpustakaan di sekolah, ada jadwalnya. Seminggu satu kali untuk anak level kelas dua. Semua anak digiring ke perpustakaan pada jadwal masing-masing kelasnya. Walaupun tidak meminjam buku, misal hanya melihat-lihat di perpustakaan juga tidak apa. Yang terpenting ada kesadaran untuk berkawan dengan buku.

Penggunaan gadget di rumah bagi anak Jepang juga dikontrol oleh sekolah. Pernah saya share masalah ini disini.

Sehingga berkawan dengan buku, membaca buku, serta mengurangi gadget bisa KLOP.

Nampaknya, menyediakan buku bagi anak-anak menjadi sesuatu yang wajib di Jepang ini. Di teras masing-masing kelas terdapat rak buku atau perpustakaan mini. Gunanya apa? Setiap anak yang telah selesai mengerjakan matematika atau pelajaran lain misalnya, anak boleh keluar kelas menuju rak buku di teras kelas tadi. Lalu mengambil buku yang ia suka dan kembali lagi ke tempat duduknya. Diam disitu karena asyik dengan bukunya. Saya membayangkan, kelas pasti tetap silent, tidak ramai karena anak yang sudah selesai mengerjakan tugas, tidak mengganggu kawannya yang masih belum selesai.

Sensei juga memotivasi, ayo pinjam buku yang banyak ya. Kemudian dihitung, si A pinjam sekian buku, si B pinjam sekian buku, dan seterusnya. Biasa kan, anak-anak kalau dapat banyak tentu akan senang? Usaha ini, saya rasa sudah cukup untuk mendekatkan anak-anak pada buku.

Anak-anak memang harta paling berharga untuk sebuah negara. Cara Jepang untuk mempersiapkan generasi penerus mereka dengan baik, pantas untuk dicontoh. Bukan hanya di keluarga, tapi juga di masyarakat, bahkan negara juga perlu terlibat mempersiapkan generasi penerus ini. Seperti seorang pepatah yang mengatakan, ‘It takes a village to raise a child!originated from the Nigerian Igbo Culture ‘Oran a azu nwa’ yang maknanya kurang lebih : “Membesarkan seorang anak membutuhkan lebih dari sebatas kedua orang tua kandung, atau bahkan satu desa.”

Sebenarnya masih banyak “lesson learned” lain untuk diceritakan tentang seriusnya Jepang dalam mempersiapkan generasinya, ketika dilihat dari sisi : menu makan siang buatan dapur sekolah, tunjangan bulanan anak Jepang, fasilitas taman kota, dibukanya akses museum untuk pendidikan, tontonan acara TV Jepang, dan seterusnya (mungkin nanti ke depan saya menemukan lagi). Semoga selalu ada waktu dan kesempatan untuk berbagi cerita.

 

Salam Literasi,

Alvika Hening Perwita

Founder Fairuz Edu Store

Beradaptasi Dengan Lingkungan Baru Yang Berbeda Bahasa

Pernah khawatir, pindahan ke negara yang berbeda bahasa, bisa adaptasi apa enggak, terutama buat anak yang lagi kelas dua SD.

Padahal kata Allah, saat ngintip di tafsir Quran si sulung  I Love My AlQuran, hanya perlu membulatkan tekad dan tawakal sama Allah, biar setrong menghadapi apa yang ada di depan. Insya Allah akan sanggup.

“…..Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS. Ali Imraan:159-160)

Di I Love My AlQuran dijelaskan, ayat ini turun saat Perang Uhud. Sebagaimana di perang ini Allah berikan pelajaran luar biasa bagi kaum muslimin. Bagaimana Allah mengajarkan kekalahan dan kemenangan disaat berlangsungnya perang. Semangat bangkit dari kekalahan, walaupun awalnya tentara islam mengalami kekalahan, namun pada akhirnya kaum muslimin mengalami kemenangan. Lengkapnya ILMA, produk edukasi yang layak untuk menemani anak-anak mendekat pada Quran.

Ehm, begitulah manusia ya, kadang merasa khawatir itu pasti.

Khawatir, nanti pindah ke Fukuoka, anak bisa bergaul enggak, temennya pada ngebully enggak, apalagi beda sendiri semuanya. Ya beda wajah, beda makanan, bahasa apalagi.

Pada akhirnya, sesuai janji Allah, ya berjalan sebagaimana anak-anak bermain, yang masih alami khas anak. Main kejar-kejaran, polisi-polisian, petak umpet, main Dodge Ball. Ya gitulah.

Kadang si sulung saat istirahat nggak mau keluar kelas, malah nggambar atau bikin-bikin pesawat dari kertas. Eh temennya ikutan pada ngumpul disitu, antri minta digambarin juga, pake request dibuatin ini itu. Jadilah banyak temen.

Sampai-sampai di acara parent meeting, seorang Ibu Jepang menyapaku.

Fadori Mom?
I always want to talk to you.

Hehe… maaf saya tuh takut karena nggak bisa bahasa Jepang jadi cuma modal senyum sama mbungkuk badan aja kalo ketemu orang di sekolah acara parent meeting.

Lalu kita berdua talking everywhere, maksudku ngobrol sampai mana-mana. Terus beliaunya cerita pernah ke Borneo 2015 lalu. Agak melongo aku, kok ya udah sampai Kalimantan. Dilihatin foto pas di Borneo. Lihat Bunga Bangkai, Orangutan, lihat pasar apung, dll. Kubilang maaf ya di negaraku banyak sampah, ga bersih kayak di Jepang. Malu.

Gapapa, tapi pulaunya cantik kok.

Aku bilang dari Solo, Java Island, eh tau juga, katanya pantai di selatan bagus-bagus ya. Alhamdulilah kalo negriku Indonesia dikenal.

Sampai sekarang sama Ibu Jepang ini masih suka talking everywhere. Di suatu pagi :

Good morning. What will he doing tomorrow 14:00? Let’s park with my son. Fureai Park. Everyone say “fureko“.

Karena si sulung enggak tau jalan menuju taman yang dimaksud, aku jawab aja kalau nggak berani jalan ke Fureko, karena beraninya ke taman lain yang sudah pernah.

Don’t worry let’s go to the park with my son. Koki doesn’t know the way to the park too. Maybe I catch Koki & Fadori my car. English is very difficult. Did you understand?

Hari bermain ke taman pun tiba, dan si sulung dijemput. Aku bilang arigatou gozaimasta, thank you for your kindness.

Vika San, Terima kasih.

(Lho, malah si Ibu udah bisa bilang terimakasih pake Bahasa Indonesia.)

Begitulah cara Allah memberi kejutan. Masih suka amazed, Allah kirim orang baik. Kalau kata Mama aku di Indonesia, “Karena semua manusia ciptaan Allah punya rasa cinta.”

Intinya? Mungkin, kamu sedang khawatir, takut atau apalah. Coba baca ini dan ini.

Bersandarlah hanya pada Allah. Tak usah khawatir, Allah akan senantiasa memberi pertolongan dan petunjuk. (Tafsir QS Al-Baqarah : 218)

Semoga segera bersemangat kembali.

 

Fukuoka, 2019-2020

Alvika Hening Perwita

Owner www.fairuz.id

Selalu Ada Hikmah Di Balik Setiap Kejadian

Kisah yang Allah hadirkan dalam hidup kita tentulah tidak selalu lurus dan lancar, namun meski demikian selalu percayalah bahwa akan selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian yang terjadi dalam kehidupan kita.

Allah maha tahu segalanya. Allah tahu apa-apa yang menjadikan hidup kita lebih baik dari masa ke masa, maka saat kejadian tidak baik yang disebut sebuah ujian dari-Nya datang menerpa, tetaplah bersabar dan tawakkal, sebab di balik ujian yang telah digariskan-Nya untuk kita pasti tersimpan hikmah yang luar biasa.

Karena sesuatu yang telah Allah berikan kepada kita tidak akan pernah sia-sia, semuanya pasti mengandung hikmah yang luar biasa, namun kita saja yang tidak bisa secara cepat untuk memahaminya.

Kita lebih sigap mengeluh daripada menela’ah secara bijak segala kejadian yang Allah hadirkan kepada kita, terlebih kejadian yang dirasa tidak mengenakkan, padahal sebenarnya sesuatu yang tidak mengenakkan tersebutlah Allah tengah mengajarkan kita terntang banyak hal pelajaran hidup.

Beruntunglah orang-orang yang mampu mengambil hikmah dari setiap yang terjadi di kehidupannya, karena hidup itu akan selalu menjadikan pemiliknya merasa indah dan damai. Jika kita mampu memaknai ujian yang ada dengan selalu meyakini bahwa hikmah yang Allah persiapkan selalu elegan dan sempurna. Lailiyatus Sa’adah (humairohdotcom). Karena, akan selalu ada hikmah di balik setiap kejadian yang terjadi dalam kehidupan kita.

 

 

Suatu sore, pasca lima minggu tiba di Fukuoka, kami sekeluarga ingin ke taman, menikmati bunga sakura yang sedang cantik bermekaran. Kami nekat berbekal sepeda minimalis dengan boncengan ala kadarnya.

Perpindahan ritme hidup dari yang biasa menginjak pedal gas berganti menjadi mengayuh pedal sepeda, sungguh jadi pengalaman yang luar biasa di tanah rantau ini. Terlebih ada satu anak dan satu balita yang harus kami bonceng.

Di sepanjang perjalanan, mulut kami tak berhenti berucap ke anak-anak, “Awas kakinya, ayok pegangan yang kenceng.” Berulang kali kami ucap dengan harapan kaki anak tak masuk ke ruji sepeda dan mereka berdua tidak ketiduran di boncengan. Situasi dan suasana sungguh mendukung dengan hawa sejuk angin sepoi-sepoi, bisa jadi anak-anak tertidur dan lengah dengan kaki mereka.

Kami boleh berusaha, tapi Allah tetap yang menentukan. Saat kepulangan dari taman, kaki Faira, anak balita kami masuk juga akhirnya ke ruji. Pecahlah tangisnya. Kami cek, alhamdulilah luka sedikit dan bisa lanjut perjalanan.

Tak disangka, hanya kurang 700m mendekati rumah, gantian kaki Fadli yang masuk ke ruji. Kali ini tangisnya lebih keras dari adeknya tadi, sampai-sampai orang Jepang yang sedang berjalan di dekat kami mendekat dan membantu menolong. Dengan tangisan seperti itu, kami yakin pasti sakit sekali dan benarlah lukanya cukup besar.

Ciutlah hati saya, ibunya. Apalagi dua hari lagi adalah hari pertama masuk sekolah bagi Fadli. Sedih sekali. Ya Allah kenapa begini? Mulut sepertinya nggak berhenti mengingatkan anak, tapi masih saja kejadian. Ampuni hamba dan minta solusi ya Allah.

Hari pertama ke sekolah dilalui dengan kaki luka dan jalan yang terseok-seok. Beruntung masih hari pertama masuk sekolah, jadi ada toleransi dari pihak sekolah untuk diantar para orangtua. Semua dengan sepeda tentunya. Di jalan berpapasan dengan anak Jepang lain yang sedang jalan kaki juga, sementara ibunya memantau dari belakang dengan sepeda. Tujuan pengantaran hari pertama ini hanya memastikan anak tau betul rute jalan menuju sekolah. Untuk hari berikutnya, ya silahkan anak jalan sendiri. Kalau beruntung terkadang berpapasan dengan teman lain sehingga bisa berjalan bersama.

Hari berikutnya, tantangan dimulai oleh Fadli sendiri. Dia harus jalan kaki, kali ini tanpa kami yang mengantar. Sedih? Iya. Dengan kaki tanpa luka saja, saya sebagai ibunya antara tega dan tak tega melihat dia jalan kaki ke sekolah. Tapi kami tinggal di Jepang, yang anak sekolah wajib berjalan kaki ke sekolah, jadi harus ikut aturan dimana tanah kami pijak.

Perlahan hanya doa yang bisa kami usahakan, semoga Fadli bisa melewati ini semua. Hari ke hari dia nampak enjoy berjalan kaki ke sekolah walau masih dengan kaki luka. Lalu dia pun berucap, “Mama, kalo kakiku sakit gini, Mister Higuchi bisa ngikutin aku kemana-mana. Aku kan jalannya pelan, bisa di sebelah Mister Higuchi terus. Aku kalo istirahat juga nggak lari-larian di lapangan, jadi enak kan Mister Higuchi nggak perlu ngejar-ngejar aku?”

Allah, inikah jawaban dari kejadian KEJEPIT RUJI beberapa hari lalu? Mister Higuchi seorang pensiunan di perusahaan multinasional yang bisa berbahasa Inggris, yang ditugaskan oleh pemerintah kota dan sekolah untuk jadi volunteer translator bagi Fadli. Beliaunya berjalan dengan tongkat, dengan tenaga yang gesit, khas nenek kakek Jepang.

Kalau tanpa kejepit ruji, sudah pasti anakku akan aktif kemana-mana. Lari kesana sini. Dan pastinya akan menyulitkan tugas Mister Higuchi.

Dua minggu berlalu, kaki Fadli sudah membaik. Dua bulan berlalu, Mister Higuchi sudah berpindah tugas, membantu warga asing lain yang memerlukan bantuan “translator” beliau. Semoga Allah merahmati Beliau yang sangat peduli ini, tak memandang kami siapa. Berbeda bukan untuk dijatuhkan, berbeda kita bisa bersama saling tolong menolong.

Dan jangan pernah lupa untuk selalu husnudzon kepada Allah. Karena Selalu Ada Hikmah Dibalik Setiap Kejadian.

Koen Atau Taman Di Jepang

Di Jepang memang banyak orang tinggal di apartemen dengan lahan kosong yang bisa dibilang sangat minim, bahkan tidak ada. Sisa lahan di bawah apartemen biasanya sudah diaspal untuk parkir mobil. Dan balkon yang tersisa sedikit hanya muat untuk jemuran baju, atau sedikit meletakkan pot tanaman.⁣
Tapi jangan heran, walau fasilitas lahan kosong di apartemen minim, tapi pemerintahnya sungguh perhatian menyediakan beragam taman di sudut-sudut kampung untuk bermain para anak generasi masa depan negara ini. Dari yang ukuran mini sampai ukuran besar. Dari yang gratis sampai berbayar. ⁣
Fasilitas di setiap taman setidaknya ada permainan WAJIB : arena memanjat (bisa dari batu, besi atau tali yang disusun tinggi), perosotan, ayunan, sand area/pasir pantai. Plus fasilitas lain seperti kran air minum, kran cuci tangan, toilet.⁣
Hampir setiap taman pasti ada arena memanjat ini. Anak Jepang kendel-kendel (pemberani), manjat sampai atas. Biasa main playground gini mereka, olah fisik sejak balita. Bawah panjatan ini ada pasir pantainya. Biar kalau jatuh berasa “empuk” 😅😅
Koen ini jadi hiburannya anak-anak. Fasilitas yang selalu bersih. Semua pengguna sadar diri untuk tidak mengotori area taman bermain. Pun kalo membawa barang yang mengandung sampah, dibersihkan sendiri itu sampahnya, dibawa pulang kembali ke rumahnya. Jadi sepulang outing oleh-olehnya adalah… sampah 😅😅
Dunia anak adalah dunia bermain, mainlah sepuasnya Nak, karena dari bermain itulah kalian belajar 😍😍

Life Is A Matter Of Choices

LIFE IS A MATTER OF CHOICES
by Alvika Hening Perwita
picture taken from Hikarigaokakinrin Park ~ Onojo, Fukuoka, Japan

Hidup selalu penuh dengan pilihan, lengkap dengan konsekuensinya. Plus dan minus wajib ditelan semua. Jangan cuma mau telan manisnya aja, terus paitnya nggak dipedulikan, itu namanya cuma mau enaknya aja. Ish ish ish tak patut.⁣

Termasuk pilihan, akan tetap stay di Solo atau ikut merantau mas suami? Entah kenapa, aku tak bisa egois. Tegakah membiarkannya berjuang sendiri di negeri seberang lautan?Teringat sewaktu ada seminar beasiswa di Jogja, sang trainer bertanya : “Ada nggak disini yang dari TK sampai kuliah di Jogja terus, nggak pindah-pindah?” Mau angkat jari tapi aku nggak di Jogja, cuma kasusnya persis. Nggak pernah pindah kota. Jaga gawang terus di Solo. Kuliah luar kota? No no no, nggak dapat ijin dari orang tua. Wis pokoe madep mantep neng Solo.⁣

Nah sekarang? Kudu mau merantau, berempat sekeluarga berjuang bersama. Dengan konsekuensi melepas semua yang ada di Solo, termasuk melepas karir sebagai dosen di kampus swasta. Percaya saja sama Sang Maha Pemberi Hidup, jika satu pintu ditutup, maka pintu lain sudah pasti akan dibuka lebar olehNya.

at Nakasu-Kawabata Station
“When one door of happiness closes, another opens; but often we look so long at the closed door that we do not see the one which has been opened for us.” (Quotes from Helen Adams Keller, the first deaf-blind person who earned a Bachelor of Arts degree) — ⁣

Memilih bermanuver dari pekerja kantoran menjadi pekerja rumahan memang bukan hal yang mudah. Ada banyak hal baru yang aku pelajari saat menjalankan online store Mainan Edukasi dan Moslem Wear ini. Yang terpenting, tetap ikhtiar menggapai ridhoNya, pasti ada jalan.⁣

Hidup selalu penuh dengan pilihan. Asal kita nyaman dan bahagia menjalaninya, plus semoga Allah ridho. Dinikmati nggih. Dijalani kanthi mesem.

Yang Unik Di SD Jepang

26 April 2019, pertama kali datang ke acara parent meeting di sekolah anak pertama.

Nemu banyak hal yang unik, salah satunya kursi ini.

Biar nggak “mbeset” ke lantai kayunya, dikasi bola tenis gitu 😅

Terus di tempat cuci tangan anak-anak, nemu sabun batangan dimasukkan jaring :

Jadi anak-anak kalo pas sabunan itu sabun nggak “mrucut-mrucut” gitu kali ya, xixixixi.

Cemas Yang Berlebihan

Cemas berlebihan? Silahkan coba praktekkan tip-tip dibawah ini.

💡 Hujamkan Dalam Hati: Apa Pun Yang Terjadi, Itu Yang Terbaik.

pict at Kamitsutsui Daini Park

Satu ayat yang langsung menghilangkan kekhawatiran :

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (QS Al Baqarah: 216)

Bisa jadi, kita memang tidak suka dengan rasanya, padahal itu yang terbaik bagi kita. Sebagai contoh kehilangan uang memang pahit, apalagi dalam jumlah yang besar. Kita tidak suka, padahal bisa jadi Allah sudah punya rencana yang lebih baik dibalik kehilangan uang tersebut. Kita hanya tidak mengetahui dan tidak menyadarinya. Kadang, kesadaran akan manfaatnya kita ketahui belakangan.

💡 Bulatkan Tekad dan Tawakal Kepada Allah untuk menghadapi apa yang ada di depan. Insya Allah akan sanggup.

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal. (QS. Ali Imraan:159-160)

Bulatkan tekad untuk meraih impian mulia kita. Kemudian bertawakallah kepada Allah agar Allah menolong dan membantu langkah-langkah kita dalam menggapai impian itu. Setelah berusaha, maka serahkan kembali hasilnya kepada Allah. Dengan cara ini, kita akan merasakan semangat yang menggelora, pantang menyerah, dan ketenangan jiwa.

Tawakal akan mengurangi kecemasan. Kita yakin, bahwa apa yang akan terjadi adalah ketentuan Allah dan Allah pasti memberikan yang terbaik bagi kita. Untuk itu, serahkan semuanya kepada Allah, mintalah bantuan, pertolongan, dan bimbingan Allah agar kita menemukan solusi, mampu menghadapi yang kita cemaskan, dan lebih baik lagi jika terhindar dari apa yang kita cemaskan.

Tawakal itu setelah Tekad DAN Usaha.

Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Iman Al-Hakim dari Ja’far bin Umaiyah dari ayahnya, ia berkata: ”Seorang berkata kepada Nabi SAW, Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakal? Nabi Bersabda: Ikatlah, kemudian bertawakalah.”

Dalam hadist lain di sebutkan: “Amir bin Umaiyah ra berkata: ‘Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, Apakah aku ikat dahulu (tungganganku) lalu aku bertawakal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakal?” Beliau menjawab: ‘Ikatlah kendaraan (unta)mu lalu bertawakallah.‘

Sementara pada ayat QS Ali Imraan:159 di atas, tawakal diletakkan setelah tekad. Artinya bertawakal kepada Allah sebelum bertindak.

Tawakal sebelum bertindak agar Allah menolong, membantu, dan membimbing tindakan kita sehingga ini akan memudahkan kita untuk meraih apa yang sudah kita tekadkan. Sehingga dijelaskan pada ayat berikutnya, dimana jika Allah sudah menolong, siapa yang bisa menghalangi. Dan, tawakal setelah bertindak, kita pun kembali menyerahkan diri kepada Allah. Allah yang berhak menentukan hasil dari ikhtiar kita. Meski pun menurut manusia tidak mungkin, tetapi semua mungkin bagi Allah.

Maka sahabat, cemas berlebih dan khawatir tidak ada gunanya bahkan memperburuk keadaan. Tugas kita berdo’a, yakin dengan ketetapan Allah, dan bertawakal. Setuju?

Artikel : motivasiislamidotcom

Jadikan Sukamu Adalah Syukur Dan Dukamu Adalah Sabar

Kehidupan ini tak selamanya indah. Senang dan duka datang silih berganti. Hal ini semakin memantapkan hati untuk menilai kehidupan dunia ini adalah semu. Kebahagiaannya semu. Kesedihannya semu.

Ada kehidupan selanjutnya di hadapan kita. Itulah negeri akhirat. Abadi dan hakiki. Di sanalah tempat istirahat dan bersenang-senang yang hakiki, yakni di surga-Nya yang penuh limpahan rahmat dan kenikmatan. Atau kesengsaraan hakiki, di nereka yang panas membara. Tempat kembali orang-orang durhaka kepada Sang Pencipta.

Seorang pernah menasehatkan, “Ketahulilah yang selamat hanyalah sedikit. Sesungguhnya tipuan dunia akan hilang. Semua kenikmatan selain surga akan sirna. Dan semua kesusahan selain neraka adalah keselamatan.”

Kesenangan dunia dan kesengsaraannya adalah ujian dari Allah. Apakah menjadi hamba yang bersyukur saat diberi nikmat dan sabar saat diberi cobaan, ataukah sebaliknya. Karena dunia ini adalah daarul ibtilaa’ (negeri tempat ujian dan cobaan). Allah ‘azzawajalla berfirman,

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Wahai manusia, Kami akan menguji kalian dengan kesempitan dan kenikmatan, untuk menguji iman kalian. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan kembali” (QS. Al-Anbiya: 35).

Ikrimah –rahimahullah– pernah mengatakan,

ليس أحد إلا وهو يفرح ويحزن، ولكن اجعلوا الفرح شكراً والحزن صبر

“Setiap insan pasti pernah merasakan suka dan duka. Oleh karena itu, jadikanlah sukamu adalah syukur dan dukamu adalah sabar.”

pict Ono-kita Elementary School

Senang dan duka adalah sunatullah yang pasti mewarnai kehidupan ini. Tidak ada seorang manusia pun yang terus merasa senang, dan tidak pula terus dalam duka dan kesedihan. Semuanya merasakan senang dan duka datang silih berganti. Jangankan kita, generasi terbaik umat ini, para wali Allah, yakni para sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pun pernah dirundung kesedihan. Allah menceritakan keadaan mereka saat kekalahan yang mereka alami dalam perang Uhud.

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِين

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah ingin memberi bukti kebenaran kepada beriman (dengan orang-orang kafir) dan menjadikan sebagian diantara kalian sebagai syuhada’. Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim” (QS. Ali Imran: 140).

Allah yang menciptakan kebahagiaan dan kesedihan agar manusia menyadari nikmatnya kebahagiaan, sehingga ia bersyukur dan berbagi. Dan sempitnya kesedihan diciptakan agar ia tunduk bersimpuh di hadapan Allah yang maha rahmat dan mengasihi, serta tidak menyombongkan diri. Hinggalah ia mengadu harap di hadapan Allah. Merendah merengek di hadapan Allah. Bersimpuh pasrah kepada Allah yang maha penyayang. Seperti aduannya Nabi Ya’qub saat lama berpisah dengan putra tercinta; Yusuf ‘alaihimas sasalam

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan penderitaan dan kesedihanku” (QS. Yusuf: 86).

Ada saja hikmah dalam ketetapan Allah yang maha hakim (bijaksana) itu.

وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ

“Dialah Allah yang menjadikan seorang tertawa dan menangis” (QS. An-Najm: 43).

Oleh karena itu, tidaklah tercela bila seorang merasa sedih. Itu adalah naluri. Tak ada salahnya bila memang sewajarnya. Terlebih bila sebab-sebab kesedihan itu suatu hal yang terpuji. Seperti yang dirasakan orang beriman saat melakukan dosa, di mana Nabi mengabarkan bahwa itu adalah tanda iman.

مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَاتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَاتُهُ فَهُوَ الْمُؤْمِنُ

“Barangsiapa yang merasa bergembira karena amal kebaikannya dan sedih karena amal keburukannya, maka ia adalah seorang yang beriman” (HR. Tirmidzi).

Atau seorang merasa sedih saat tertinggal shalat jamaah di masjid, menyia-nyiakan waktu, tertidur di sepertiga malam terakhir hingga luput dari sholat tahajud, ini suatu hal yang terpuji. Ini tanda adanya cahaya iman dalam hatinya.

Yang tercela adalah saat seorang larut dalam sedihnya. Hingga membuat hatinya lemah, tekadnya meredup, rasa optimisnya menghilang, kesedihan yang menghancurkan harapan. Sampai membuatnya tidak mau bergerak, tidak ada ikhtiyar untuk mengubah keadaannya untuk menjadi insan yang bahagia.

Yang tercela kesedihan yang membuatnya lemah untuk meraih ridha Allah, bahkan membawanya pada keputusasaan dan membenci takdir Allah. Karena seringkali setan memanfaatkan kesedihan untuk menjerumuskan manusia. Betapa banyak orang-orang yang tergelincir dari jalan Allah karena larut dalam kesedihan. Oleh karenanya, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam senantiasa berlindung dari rasa sedih. Di antara doa yang sering dipanjatkan Nabi adalah :

اللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن

Allahumma innii a’uudzubika minal hammi wal hazani.

“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari gundah gulana dan rasa sedih…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tidak perlu berlama-lama memendam kesedihan dalam hatimu. Banyak yang tak menyadari, ternyata setan senang melihat seorang mukmin bersedih. Ia amat menginginkan kesedihan itu ada pada orang-orang beriman.

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS. Ali Imran: 139).

Kemudian firman Allah ta’ala,

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ

“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At-Taubah: 40)

Apa rahasia dari semua ini? Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan,

وسر ذلك أن الحزن موقف غير مسير، ولا مصلحة فيه للقلب، وأحب شيء إلى الشيطان :أن يحزن العبد ليقطعه عن سيره ويوقفه عن سلوكه، قال الله تعالى : {إِنَّمَا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا }

Rahasianya adalah, karena kesedihan adalah keadaan yang tidak menyenangkan, tidak ada maslahat bagi hati. Suatu hal yang paling disenangi setan adalah, membuat sedih hati seorang hamba. Hingga menghentikannya dari rutinitas amalnya dan menahannya dari kebiasaan baiknya.

Maka BERBAHAGIALAH sahabat.

Artikel : muslim.or.id

Hanan Attaki dalam Tabligh Akbar Kyushu 2019

“Dunia ini ibarat harta yang kecil nan sedikit, diperebutkan orang banyak. Sementara akhirat adalah harta yang besar dan banyak, namun diperebutkan oleh sedikit orang.” -Ust. Hanan Attaki dalam Tabligh Akbar Kyushu 2019-

Onojo-Shi, pict by Alvika Hening Perwita
Kawan, tidak ada salahnya kita berhasil dan menikmati dunia, akan tetapi jangan lupa bahwa tujuan utama dan akhir yang perlu kita kejar adalah akhirat. Sukseskanlah diri kita, perbanyak ilmu kita, kemudian pergunakanlah dan amalkan dengan sebaik-baiknya. Tidak perlu menunda-nunda untuk hijrah, mulailah dari hal sekecil mungkin dan sesegera mungkin, karena kita tidak bakal tahu umur kita akan berhenti kapan dan dimana. Jika sudah berhenti umur kita, sudah siapkah dan pantaskah kita untuk kehidupan yang sesungguhnya kelak? Bukankah surga adalah sebaik-baiknya tempat bagi kita untuk kembali?

Mari kita semua sama-sama berjuang untuk meraih tempat terbaik di sisi-Nya. Semangat untuk kita semua! Semoga kita semua selalu dalam ridho Allah SWT.

credit to Muslim Fukuoka

Seperti Apa Kantor Balai Kota Di Jepang?

👱👩 Neng sama Abang ini dimana?
👦👧 Di balai kota.

Sepuluh hari pasca kedatangan di Jepang, kami mengurus administrasi kependudukan mulai dari KTP, KK, kartu kesehatan, sekolah anak, dan urusan kependudukan lainnya ke City Hall di Onojo-shi. Ya selayaknya penduduk baru, maka kami harus lapor diri tentang keberadaan kami. 

Bahkan penjelasan tentang “how to live in Japan” ada dijelaskan di city hall ini. Sempat kaget dalam hati, ini benar balai kota? Karena kami datang langsung disapa, seperti baru saja masuk ke dalam hotel berbintang sekian. Setelah tau kami bicara in English, staf yang gesit khusus speak in English didatangkan.

Seolah mereka punya mata batin melihat saya yang kesusahan membawa anak anak aktif ini, langsung ditunjukkan : there’s a playground in there.

Oh really? Ya inilah playground di City Hall Onojo, Fukuoka. Sementara suami masih sibuk dengan urusan administrasi kami sekeluarga, anak anak tenang bermain dan asyik baca buku disini.

Sebelum mengelola Sahabat Bermain, buku memang menjadi salah satu trik yang kami pilih supaya anak-anak “anteng”, selain bermain lego tentunya 😅

Happy reading & playing, dear All Kiddos 😘