Berbeda Itu Biasa

Rasa penasaran saya pada guru SD Jepang cukup tinggi. Pada tulisan ini saya akan menceritakan apa yang saya alami selama merantau di Jepang.

Awal mula datang di sekolah, saya bertemu kepala sekolah dan wakilnya, juga ditemani oleh penterjemah. Kesan pertama, guru Jepang sangat rapi dengan pakaian jas baik laki-laki maupun perempuan. Sementara sepatu, ada dua macam. Sepatu luar sekolah dan sepatu dalam sekolah. Ya karena tidak ada penjaga sekolah, maka semua elemen di sekolah wajib menjaga kebersihan. Dengan digunakannya indoor shoes, diharapkan kotoran luar tidak akan terbawa ke lantai kelas.

Hari pertama sekolah, putra sulung saya mendapat wali kelas perempuan. Beliau cakap berbahasa Inggris sehingga memudahkan saya berkomunikasi. Guru di Jepang dipanggil dengan sebutan Sensei. Istilah Sensei di Jepang sebenarnya lebih mengarah pada seseorang yang memiliki keahlian, maka dokter yang merawat pasien juga dipanggil Sensei.

Semakin lama mengenal Sensei, saya menyadari bagaimana cara kerjanya. Di kelas putra saya, ternyata ada tiga anak dengan kebutuhan khusus. Awalnya saya heran, anak dengan kebutuhan khusus kok tidak bersekolah di tempat khusus pula? Anak ini berada di kelas dan sekolah yang sama, yaitu sekolah negeri. Semakin memahami Jepang, saya sadar dan merasa tertampar bahwa perbedaaan itu tidak perlu dikotak-dikotakkan, justru yang berbeda itu harus dirangkul bersama supaya empati masing-masing anak tercipta.

Saya sering mendengar cerita dari putra sulung saya, jika ada beberapa Sensei khusus yang menangani anak berkebutuhan khusus. Mereka dikumpulkan pada kelas yang disebut himawari. Ada jam tertentu, anak-anak dibawa ke kelas himawari untuk mendapatkan pelajaran bersama anak berkebutuhan khusus lainnya. Di kelas ini, anak dijelaskan perlahan hingga bisa walau sedikit paham. Tentu target berbeda dengan anak normal. Selesai dari kelas himawari, mereka akan dibawa ke dalam kelas reguler seperti biasa, bergaul kembali dengan kawan sebanyanya.

Sekilas tidak nampak berbeda dengan kondisi anak ini. Tidak nakal, tidak usil pula. Semakin hari saya semakin menyadari betapa Sensei telah berhasil menanamkan rasa kebersamaan, rasa empati, rasa menerima, rasa menghargai antara satu anak dengan anak lain.

Bagaimana usaha Sensei untuk mengenalkan perbedaan? Ada suatu hari, anak-anak diminta memasukkan tangan kanan ke dalam bajunya, sehingga yang terlihat hanya tangan kiri. Anak diminta beraktivitas, makan, ganti baju, membuat prakarya hanya dengan tangan kiri. Selepas kegiatan itu, anak-anak diminta menulis, apa yang mereka rasakan jika menjadi orang berkebutuhan khusus. Ada yang menulis, sulit ya jadi mereka. Lalu ada suatu kesempatan anak-anak boleh wawancara Sensei yang meng-handle kelas himawari, menanyakan apapun yang ingin mereka ketahui tentang kelas himawari.

Putra saya pun sebenarnya juga ternasuk anak khusus, dia muslim sendiri. Lalu apakah anak saya di-bully? Tidak. Peran Sensei sangat berarti dalam mengenalkan bahwa ada anak baru yang berasal dari Indonesia, tidak bisa makan sembarangan, ada ibadah ke masjid di hari Jumat, juga ada puasa dalam beberapa waktu. Sama-sama khususnya bukan dengan anak-anak Jepang yang berkebutuhan khusus tadi?

Dengan perlakuan seperti ini, anak berkebutuhan khusus tidak merasa dibedakan. Sedangkan bagi anak normal, terbiasa memperlakukan orang yang berbeda dengan wajar. Mengenalkan perbedaan sejak dini, kelak saat dewasa, anak-anak ini akan melihat perbedaan sebagai hal yang biasa.

#30DWC #30DWCJilid28 #Day28

Oleh Alvika Hening Perwita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *