Allah Will Guide You

Hidup di negeri minoritas muslim, membuat saya banyak mengambil segala pelajaran yang Allah hadirkan. Salah satunya soal makanan. Dari yang dulunya saat di Indonesia merasa “cuek” dan “aman”, kini tak lagi demikian saat tinggal di Jepang.

Segala bentuk makanan yang kami jumpai harus kami pikir terlebih dahulu sebelum akhirnya kami konsumsi. Dipikir disini maknanya, harus kami translate dahulu ingredients-nya, juga terkadang harus kami cross-check dahulu ke media Japan halal. Apakah direkomendasikan untuk dikonsumsi oleh komunitas muslim atau tidak.

Allah telah menegaskan, “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagimu. (Q.S Al-Baqarah : 168)

Saat berkumpul dengan kawan Jepang pun, kami harus membawa bekal sendiri. Karena tak yakin, apakah saus bumbu yang digunakan halal. Walau memang bahan makanan dari seafood, namun dengan bumbu yang mengandung alkohol, tentu tak termasuk kategori makanan halal.

Jika ada acara formal, walau kami minoritas, pihak penyelenggara memikirkan muslim juga. Walau kami berbeda keyakinan dan berbeda menu tentunya, yang bagi mereka mungkin merasa pusing, karena makanan halal banyak aturannya. Tapi mereka tetap berusaha mencarikan snack yang boleh dikonsumsi muslim. Sensei dan teman juga memberitahu saat akan ada acara minum arak dan boleh meninggalkan jika tidak berkenan. Saya jadi belajar dari orang Jepang. Berbeda tapi tetap bersama dan saling menghargai.

Beginilah kami, muslim sebagai minoritas. Kemana-mana membawa bekal sendiri. Tapi ya sama juga sih, orang Jepang banyak yang membawa bento. Kalau orang Jepang karena alasan kebersihan, sedangkan kami alasan kehalalan. Banyak spot tempat makan dengan meja kursi, tempat sampah, tisu kadang ada. Makan bekal disitu, kalau sudah selesai ya dibersihkan sendiri, tidak ada petugasnya.

Ribet dan berat, memang. Begitulah jalan Allah, harus ada usaha. Bersusah-susah dahulu. Kalau mau ambil jalan pintas juga bisa, sangat bisa. Tersedia aneka macam makanan di setiap ujung jalan, di setiap sudut supermarket. Seringnya makanan di etalase tersebut membuat saya hanya cukup melihat dan tak sengaja menghirup harum baunya.

Lebih detail lagi, Allah menjelaskan, “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad), ‘Apakah yang dihalalkan bagi mereka?’ Katakanlah, ‘Yang dihalalkan bagimu adalah (makanan) yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang pemburu yang telah kamu latih untuk berburu, yang kamu latih menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat cepat perhitungan-Nya.’” (Q.S Al-Maidah : 4)

Meski demikian ketat aturan Allah, namun Allah Maha Penyayang, dengan diberi kelimpahan makanan laut, dan kita umat muslim diperbolehkan mengkonsumsi semua hewan laut. “Dihalalkan bagimu hewan buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) hewan darat, selama kamu sedang ihram. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikumpulkan kembali.” (QS. Al-Maidah : 96)

Seluruh hewan yang terdapat di laut ialah halal, termasuk bangkai ikan laut. Air laut dengan kandungan garamnya, merupakan pengawet alami terbaik. Itulah yang menyebabkan bangkai ikan yang mati di laut tetap segar dan bisa dikonsumsi.

Tantangan semakin bertambah, saat membawa anak turut serta. Sudah pasti mereka belum cukup memahami sampai sedetail apa makanan halal itu. Tugas kami orangtuanya yang mengarahkan anak, ini boleh itu tidak boleh. Walau terkadang ada rengekan, ada rayuan, “Mama, aku pengen yang itu…”

Untuk menjelaskan halal haram ini ke anak, kami sering dengan cara-cara fun, supaya anak tidak merasa terbebani. Seperti tebak-tebakan. Misalnya:

“Burung apa yang ada cakarnya?”

“Elang…”

“Nah itu enggak boleh dimakan, karena cakarnya tajam.”

“Kalau burung puyuh boleh dimakan enggak Pa, kan ada cakar juga?

“Itu boleh, kan cakarnya berbeda, cakarnya enggak tajam, hanya untuk mengais tanah, bukan untuk mencabik-cabik daging.”

Lumayan, cukup memutar otak, bagaimana men-translate aturan halal haram dari Allah ini dengan bahasa khas anak supaya mereka mudah memahami. Beruntung kami biasa menghadirkan mainan edukasi sehingga banyak terbantu.

Rasa penasaran anak-anak memang cukup tinggi, banyak hal yang selalu ditanyakan mereka. Termasuk bila anak-anak mendengar kata halal dan haram baik dari orangtua atau lingkungannya. Sebagai kata yang asing di telinga anak, ia pasti ingin tahu banyak tentang halal dan haram.

Saat saya akan memasak, memilih bumbu pun harus dengan hati-hati pula. Bumbu Jepang, yang konon katanya banyak yang tidak halal, karena mengandung alkohol. Sebut saja mirin, shoyu. Dahulu sebelum datang ke Jepang, aneka bumbu ini hanya saya jumpai di resep online. Kini, orang Jepang ada yang membuat bumbu muslim friendly, tanpa campuran alkohol.

Pindah ke Jepang ini, memang kami sekeluarga sudah paham konsekuensinya. Termasuk tidak bisa sembarangan makan roti. Dikarenakan emulsifier, gelatin, mentega yang digunakan harus diteliti dahulu, apakah dari bahan tumbuhan? Jika dari bahan hewani tentu tidak boleh, kecuali yang memang halal. Ya, sampai sedetail itu penjelasan halal haram makanan, untuk memastikan apakah layak untuk dikonsumsi oleh muslim.

Sampai suatu ketika, tangan ini kok ya iseng scroll di Instagram dengan hashtag #halalbreadjapan. Wah, beragam posting-an dan ada roti halal di Prefektur Gifu, yang bisa dikirim ke seluruh Jepang dengan frozen delivery. Masya Allah.

“Fa inna ma’al-‘usri yusrā, inna ma’al-‘usri yusrā. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (Q.S. Al-Insyirah : 5-6)

Sebagai orang muslim, turut berucap syukur, produk muslim bisa diterima dengan baik di Jepang. Mungkin karena orang Jepang memiliki karakter suka belajar hal baru. Jika ada sesuatu yang berbeda dari kebiasaan mereka bukan lantas di-bully tapi malah dipelajari, lalu di-support.

Sejatinya aturan halal haram ini Allah hadirkan demi kesehatan hamba-Nya. Pelajaran yang Allah beri sungguh luar biasa. Semoga kita semua menjadi umat yang selalu berhati-hati tentang makanan dimanapun kita berada. Dan yakinlah, bahwa Allah akan selalu membimbing kita. Allah will guide you. Allah will make a way when there seems to be no way.

#30DWC #30DWCJilid28 #Day16

Oleh Alvika Hening Perwita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *